Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

02 June 2019

Padamu, Ramadanku ke-24

June 02, 2019 0
(Sumber gambar: weheartit.com)

2019 Masehi; 1440 Hijriah

Pada beratnya kelopak mata ketika Ibu membangunkan sahur
Pada kunyahan terpaksa karena masih kenyang dengan makan malam
Pada siang terik dan tugas menjengkelkan di perkantoran ibukota
Pada menit-menit yang telah dicuri untuk sekadar merebahkan diri di kursi pantry dengan alasan ingin ke toilet
Pada arloji yang berkali-kali diintip dari balik lengan kemeja selepas jam Ashar dan seterusnya
Pada biji kurma dalam gelas plastik bekas air mineral yang kadang diletakkan begitu saja di sudut mushola

14 July 2018

Bagaimana Islam Memandang Sumpah, Sihir, dan Jimat?

July 14, 2018 0
Magic Stick. Source: freewallpapersdownload.com


Assalamu’alaikum. Aaah, Juli! Entah mengapa bagi saya Juli adalah bulan kasih sayang. Hehe. Padahal tiap bulan sama saja, sih. Namun ada alasan personal yang membuat saya menyukai bulan Juli, setelah bulan Juni. Juni dan Juli, memiliki tempat khusus yang sentimental dalam relung memori saya.

(Salah satunyaaa… karena alhamdulillah pada 4 Juli 2018 saya lulus sidang skripsi. Allah Maha Baik.)

Kamis, 12 Juli 2018, saya berkesempatan untuk menghadiri sebuah kajian muslimah yang rutin diadakan tiap Kamis pekan ke-2 tiap bulannya oleh Majelis Taklim Al-Mumtaz Shalihah di Masjid Ta’liful Quluub Bekasi. Pembahasan kajian kala itu ialah kelanjutan dari kajian sebelumnya, yaitu tentang 100 dosa yang kerap diremehkan oleh muslimah. Dalam tiap pertemuan akan dibahas beberapa dosa tersebut. Seperti misalnya pada hari ketika saya hadir, materi yang dibahas adalah tentang hukum bersumpah, melepas diri dari Islam, tukang sihir atau dukun, dan penggunaan jimat. Sedangkan pematerinya adalah Ustadz Syahrul Fatwa. MasyaAllah.
Btw, dulu rumah saya di Bumyagara; di kawasan masjid tempat saya kajian tersebut. Waktu masih tinggal di sana, tetangga-tetangga saya sering mengajak saya dan Mama untuk ikut kajian di situ. Tapi mungkin pada saat itu saya belum peka terhadap hidayah kali, ya. Sekarang giliran rumah sudah berada di perbatasan Bekasi-Bogor, baru demen~
Oh, ya! Saya suka kajian tersebut karena pembahasan materi tidak common sense. Mengandung elemen ilmiah juga yang mana selain menentramkan kalbu, bisa memuaskan fikriyah pula. Kajian ini semacam mengupas tuntas sebuah isi buku dengan judul yang sama dengan tema, yaitu 100 Dosa yang Diremehkan Wanita (Mukhalafat Nisa’iyyah, 100 Mukhalafah Taqa’u jihal Katsir minan Nisa’ bi Adillatiha Asy-Syar’iyyah), karya Abdul Lathif bin Hajis Al-Ghamidi yang tentunya sudah tidak asing lagi di kalangan ukhti-ukhti. Hihi.

Yeaaay, finally saya punya bukunya! Jadi ceritanya sudah sejak lama buku ini saya masukkan ke wish list di Tokopedia. Namun qadarullah baru diizinkan beli on the spot saat kajian. Timing-nya pas gitu. Hmm, mixed feelings. Senang, sih, punya bukunya. Tapi ketika baca isinya, bikin sedih karena ingat dosa. Huuu.

Bismillah, langsung saja saya paparkan poin-poinnya. (Netizen pun menghembuskan nafas lega karena akhirnya mereka selesai meladeni curhatan sang empunya blog. “KAPAN MATERINYA?!” Yaelah, chill napa.)

30 April 2018

Menjadi Keluarga Sakinah di Zaman Fitnah

April 30, 2018 2
(Pic: muslimvillage.com)

Hai! Assalamu’alaikum.
Fix, postingan ini menjadi postingan pertama saya di tahun 2018. Lama tidak menulis untuk blog bukan karena sibuk dengan urusan lain. Sibuknya sama saja, sibuk nulis juga. Cuma yang ini agak beda, lebih memicu hormon stress dibanding hormon bahagia. Yap, si empunya blog sedang menggarap skripsi. Jangan ditanya kapan lulus (apalagi kapan nikah), karena pertanyaan itu sudah terlalu mainstream. Doakan saja semoga disegerakan. Dan mengenai postingan kali ini…. Semoga bisa menjadi "appetizer" yang bergizi bagi otak dan hati penulis serta pembacanya untuk tahun 2018 ini, yaaa.
Iman itu fluktuatif. Saya rasa semua orang memahaminya. Salah satu obat mujarab bagi keadaan iman yang sedang futur adalah dengan mendatangi majelis ilmu (atau kalau bahasa saya, duduk manja nan anteng di taman-taman surga). Nah, berhubung belakangan ini hari-hari saya dipenuhi oleh rutinitas skripsian khas anak semester akhir, saya menyadari bahwa sudah lama sekali saya tidak ikut kajian keislaman. Terlebih sebelumnya saya curhat dengan Dik Yubi Nabila dan Mbak Wety Artika tentang solusi untuk menghadapi fluktuasi iman, dan keduanya menyebut “menghadiri kajian” sebagai solusi manjur atas hati yang sedang terombang-ambing menjauh dari agama-Nya. Terima kasih, Dik Yub dan Mbak Wet atas sharing-sharing-nya! Kece banget lah para calon istri idaman ini. Xx.

(Chat Yubi)

(Chat Wety)

Pagi, 29 April 2018, saya melihat-lihat status WhatsApp teman-teman di kontak saya. Qadarullah, Allah hears my intention. Saya menemukan informasi tentang kajian yang sepertinya seru di status teman saya, Amelia Larasati (Yap, kami sama-sama berasal dari klan Larasati yang ingin menyerang negeri Konoha). But… wait, what? Jadwal kajian tersebut hari ini juga dan jam 9? Saat saya melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8. Mengingat bahwa jarak rumah saya terlampau jauh dari lokasi kajian, saya menjadi ragu. Namun syafaatnya punya teman yang shalihah itu, saat niat kita sudah mulai nge-blur, pasti dia menajamkannya kembali. Akhirnya… bismillah, saya berangkat. Lagian bete juga di rumah terus. Heu.

(Chat Amel)

Saya sempat menghadapi beberapa kendala di perjalanan, seperti macet dan jalan yang diblokade karena hari Minggu. Namun alhamdulillah dikirimkan Abang Go-Jek yang sabar dan sopan oleh Allah. Hingga akhirnya pukul setengah 10-an saya sampai di Masjid Nurul Islam Islamic Center Bekasi. Telat setengah jam, namun sepertinya pembahasan belum terlalu jauh. Saya pun duduk di barisan belakang karena masyaAllah masjidnya penuh sekali. Bahkan sampai ada orang yang duduk di tangga-tangga kecil. Hmm, ternyata yang tertarik dengan kajian ini bukan hanya saya saja. Selain karena ustadznya kondang, tema kajiannya juga masyaAllah, gengs. Temanya…. Seperti pada judul postingan saya, yaitu "Menjadi Keluarga Sakinah di Zaman Fitnah." Kebanyakan yang datang adalah pasangan suami-istri. Saya? Ndak apa lah sendiri dulu. Yang penting punya ilmunya dulu, deh, sebelum jodoh benerannya. Haha.
Seperti biasa, saya mencatat apa yang saya dengar. Namun jujur saja, kali ini saya terkendala oleh suara bising karena masifnya jumlah pendatang dan volume speaker yang kurang kencang. Tapi itu bukan masalah besar, kok. InsyaAllah masih ada yang bisa dipetik dari kajian yang diisi oleh K.H. Imtihan Asy-Syafi’i dan Ustadz Oemar Mita, Lc. tadi.
Sebelum masuk terlalu jauh ke dalam materi, sakinah adalah keadaan damai, tentram, tenang, dan aman dalam berumah tangga. Lalu apa itu zaman fitnah? Ya zaman yang saat ini sedang kita hadapi. Zaman di mana banyak orang munafik, tersebarnya syirik, bertubi-tubinya ujian, dan lain sebagainya. Setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Dan pada zaman di mana kita hidup sekarang, tantangannya justru lebih berat karena terkadang ketidakbaikan itu terselubung. Dengan demikian, penting untuk mengetahui apa yang dapat kita lakukan sebagai anggota keluarga agar kita dan keluarga bisa menghadapi zaman fitnah ini dengan baik. Berikut sedikit yang dapat saya catat...

17 February 2017

Shopping Skill: Ketahui Godaan-godaan Psikologis Saat Belanja!

February 17, 2017 0
 
(tumblr.com)

Hai, halo! Assalamu’alaikum. ^^
Tak terasa, ya, sudah tahun 2017 saja. Ngomong-ngomong, bagaimana 2016-mu? Semoga sesuai dengan yang kamu resolusikan, ya. Kalaupun tidak, tetaplah tersenyum dan sambut tahun yang baru. Nothing’s ever waste of time, kok. Trust me. ;)
Beberapa minggu lalu, seorang teman di sebuah Klub Menulis mengirimkan informasi melalui grup WhatsApp. Informasi tersebut berisi tentang sebuah aplikasi handphone resmi dari pemerintah Indonesia yang dikhususkan untuk para pembaca buku. Yap, aplikasi iPusnas. Bisa dibilang bahwa aplikasi tersebut ialah Perpustakaan Nasional Indonesia versi mobile-friendly. Tak perlu menunggu lama, saya sontak berselancar di Google Playstore, untuk kemudian mengunduhnya. Dan…………….. saya pun terperosok ke dalam nuansa yang telah ia ciptakan! Oke, itu lebay. Maksudnya, secara garis besar, saya menyukai aplikasi iPusnas. Sangat berfaedah untuk orang semacam saya, yang tidak punya ongkos untuk pergi ke Perpusnas asli nan jauh di mata (namun dekat di hati). Hehehe.
Alhamdulillah, keberadaan aplikasi iPusnas membangkitkan lagi semangat membaca buku saya setelah sekian lama saya keseringan membaca LINE Today. Haha. I mean, tanpa dinafikkan, terkadang saya malas untuk membaca buku yang benar-benar buku, apalagi jika buku itu tebal dan tulisannya kecil-kecil. Namun dengan adanya iPusnas, membaca menjadi lebih simpel dan menyenangkan. Sekarang saya bisa membaca buku di KRL Commuter Line tanpa kelihatan sok pintar. Orang pasti mengiranya saya sedang chatting-chattingan sama pacar atau operator seluler, bukan sedang membaca buku. (?)
Selain dari segi kepraktisan, iPusnas juga menolong saya saat saya sudah tidak punya bahan bacaan fisik (buku konvensional). Saya jadi tidak perlu memakai budget yang saya persiapkan untuk hal lainnya demi memuaskan hasrat saya terhadap buku. Bahasa mudahnya, iPusnas membuat anggaran saya lebih irit tanpa memasung kecintaan saya terhadap dunia literasi. Saya bisa membaca buku elektronik gratis, legal pula! Ingat, LEGAL! Karena iPusnas ialah aplikasi resmi keluaran pemerintah, maka konten di dalamnya pastilah sudah lolos berbagai proses untuk dapat dikatakan legal. Sehingga ketika kita membacanya, kita tidak dihantui oleh rasa bersalah karena telah melanggar copyright. Lain halnya ketika kita membaca e-book yang bertebaran di Google yang tidak jelas kejuntrungannya.
Ah, above all, saya bahagia karena

02 September 2016

Uzlah: “Rumah” untuk Kesedihanmu

September 02, 2016 0
(Isolated home. Via domain.com.au)

Hai! Assalamu’alaikum! :)

Setiap yang bernyawa pastilah diuji. Sepertinya sudah banyak manusia yang mengetahui kalimat itu. Namun sayangnya, tidak banyak yang benar-benar memahami maknanya. Buktinya, saat kita sedang diuji oleh-Nya, kita kerap bersedih terlalu larut seakan kita tidak percaya bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Meski begitu, kesedihan dalam bentuk tertentu memang lumrah adanya. Asalkan kesedihan itu ditunjukkan hanya kepada yang menciptakannya. Sebab apa? Sebab terkadang menampakkan kesedihan pada manusia (apalagi di media sosial) justru malah menambah rasa sedih yang kita rasakan.

Saya pernah mengalami beberapa hal yang akhirnya membuat saya menjadi tidak mudah mempercayai orang lain dan lebih keras untuk menjaga lisan saya. Pengalaman di mana saya menceritakan kesedihan saya pada orang lain, kemudian orang tersebut justru menabur garam di luka saya. Pengalaman itulah yang membuat saya yakin bahwasanya sebaiknya kita berkeluh kesah hanya kepada Allah saja. Atau jika ingin berkeluh kesah di depan manusia, pastikan ia adalah orang yang serumah dengan kita dan bertahun-tahun telah saling mengenal dengan kita, terutama orangtua.

Pada akhir bulan Agustus kemarin, saya membaca sebuah buku yang sudah lama sekali terbit namun tetap populer bahkan hingga sekarang. Bagaimana tidak? Buku tersebut telah dialihbahasakan ke dalam 29 bahasa karena kemampuannya memikat banyak pembaca. Selain itu, buku tersebut juga ditulis oleh Syaikh DR. ‘Aidh al-Qarni yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya. Meski semasa hidup beliau menemui pro dan kontra, dari mulai dituduh sesat, dipenjara, bahkan hingga meninggal karena ditembak, namun buku ini tidak kekurangan esensinya sebagai salah satu buku motivasi islami terbaik sepanjang masa. Buku apa, sih, yang saya baca di akhir liburan saya? Tepat sekali! Buku itu berjudul “La Tahzan”. Atau kalau diartikan ke dalam bahasa saya… “Ulah Ceurik”. Hehe. La Tahzan itu artinya jangan bersedih. :)

Buku tersebut berisikan hal-hal yang sekiranya dapat menghindari dan/atau menghentikan kesedihan. Di antaranya seperti mengisi waktu luang dengan kesibukan, mengambil hikmah dari setiap kejadian, menegakkan salat, dan lain sebagainya. Pokoknya lengkap selengkap-lengkapnya! Toh, buku ini pun cukup tebal, yaitu memiliki hampir 600 halaman. Namun dijamin, bab demi bab akan kita lewati dengan tanpa percuma. Jika kita membacanya dengan khidmat, niscaya kita akan menjadi manusia yang lebih pandai dalam mengelola kesedihan. Aamiin, insyaAllah.

(Source: bukoe.com)

Dari semua bagian yang saya baca, terdapat satu konsep yang menarik perhatian saya. Sebab jika didalami, konsep ini agak berseberangan dengan anggapan umum yang memaknai frasa “cari hiburan” dengan bersenang-senang bersama teman, atau kegiatan lainnya yang biasa dilakukan kebanyakan orang saat bersedih. Namun konsep ini terbukti manjur untuk mengobati kesedihan. Konsep apakah itu?