02 September 2016

Uzlah: “Rumah” untuk Kesedihanmu

September 02, 2016 0
(Isolated home. Via domain.com.au)

Hai! Assalamu’alaikum! :)

Setiap yang bernyawa pastilah diuji. Sepertinya sudah banyak manusia yang mengetahui kalimat itu. Namun sayangnya, tidak banyak yang benar-benar memahami maknanya. Buktinya, saat kita sedang diuji oleh-Nya, kita kerap bersedih terlalu larut seakan kita tidak percaya bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Meski begitu, kesedihan dalam bentuk tertentu memang lumrah adanya. Asalkan kesedihan itu ditunjukkan hanya kepada yang menciptakannya. Sebab apa? Sebab terkadang menampakkan kesedihan pada manusia (apalagi di media sosial) justru malah menambah rasa sedih yang kita rasakan.

Saya pernah mengalami beberapa hal yang akhirnya membuat saya menjadi tidak mudah mempercayai orang lain dan lebih keras untuk menjaga lisan saya. Pengalaman di mana saya menceritakan kesedihan saya pada orang lain, kemudian orang tersebut justru menabur garam di luka saya. Pengalaman itulah yang membuat saya yakin bahwasanya sebaiknya kita berkeluh kesah hanya kepada Allah saja. Atau jika ingin berkeluh kesah di depan manusia, pastikan ia adalah orang yang serumah dengan kita dan bertahun-tahun telah saling mengenal dengan kita, terutama orangtua.

Pada akhir bulan Agustus kemarin, saya membaca sebuah buku yang sudah lama sekali terbit namun tetap populer bahkan hingga sekarang. Bagaimana tidak? Buku tersebut telah dialihbahasakan ke dalam 29 bahasa karena kemampuannya memikat banyak pembaca. Selain itu, buku tersebut juga ditulis oleh Syaikh DR. ‘Aidh al-Qarni yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya. Meski semasa hidup beliau menemui pro dan kontra, dari mulai dituduh sesat, dipenjara, bahkan hingga meninggal karena ditembak, namun buku ini tidak kekurangan esensinya sebagai salah satu buku motivasi islami terbaik sepanjang masa. Buku apa, sih, yang saya baca di akhir liburan saya? Tepat sekali! Buku itu berjudul “La Tahzan”. Atau kalau diartikan ke dalam bahasa saya… “Ulah Ceurik”. Hehe. La Tahzan itu artinya jangan bersedih. :)

Buku tersebut berisikan hal-hal yang sekiranya dapat menghindari dan/atau menghentikan kesedihan. Di antaranya seperti mengisi waktu luang dengan kesibukan, mengambil hikmah dari setiap kejadian, menegakkan salat, dan lain sebagainya. Pokoknya lengkap selengkap-lengkapnya! Toh, buku ini pun cukup tebal, yaitu memiliki hampir 600 halaman. Namun dijamin, bab demi bab akan kita lewati dengan tanpa percuma. Jika kita membacanya dengan khidmat, niscaya kita akan menjadi manusia yang lebih pandai dalam mengelola kesedihan. Aamiin, insyaAllah.

(Source: bukoe.com)

Dari semua bagian yang saya baca, terdapat satu konsep yang menarik perhatian saya. Sebab jika didalami, konsep ini agak berseberangan dengan anggapan umum yang memaknai frasa “cari hiburan” dengan bersenang-senang bersama teman, atau kegiatan lainnya yang biasa dilakukan kebanyakan orang saat bersedih. Namun konsep ini terbukti manjur untuk mengobati kesedihan. Konsep apakah itu?

06 August 2016

Haiku: Puisi yang Tak Pernah Selesai?

August 06, 2016 2
(Source: terapeak.com)
Halo! Assalamu’alaikum. :)

Haiku. Pernahkah kamu mendengar kata itu? Terasa asing di telinga, namun mungkin bentuknya sering kita jumpai secara tak sadar. Hmm, saya pun baru mengetahuinya belakangan ini.

Berawal dari kunjungan saya ke perpustakaan utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian saya menemukan buku tebal yang bersampul gambar ruang angkasa. Buku tersebut diberi judul “Starflight” oleh penulisnya. Setelah saya buka lembaran demi lembaran, ternyata buku itu adalah buku cerita bergambar untuk anak. Saya pun berinisiatif meminjamnya untuk diberitahukan kepada adik saya yang bilang kalau cita-citanya ingin menjadi pilot. Saya pikir ia pasti menyukainya karena di dalamnya banyak sekali gambar-gambar yang berkaitan dengan teknologi, langit, dan ruang angkasa.

Benar saja. Ia menyukainya. Namun ia lebih suka untuk melihat-lihat gambarnya saja daripada membaca teksnya lantaran teksnya berbahasa Inggris. Hehehe.

Saya pun tak mau kalah. Saya turut membacanya sampai kemudian saya menemukan beberapa halaman unik yang bertemakan alam. Ketika saya memperhatikan teks di halaman-halaman tersebut, barulah saya mengetahui bahwa ternyata teks tersebut berbentuk puisi. Di atas halaman, terdapat tulisan “Haiku”. Sontak saya langsung saja berselancar di Google untuk mengetahui apa itu “Haiku”. Dan… Semakin saya menemukan jawaban, semakin tertarik pula saya untuk mencari tahu lebih banyak tentangnya. Sekarang, saya akan membagikan sedikit yang saya tangkap dari hasil pembelajaran iseng saya tentang Haiku. 

Haiku? Itu Apa, Sih?

24 March 2016

A Little Admiration for China

March 24, 2016 2
Panda, hewan khas Cina. (Source: mnn.com)

Assalamu’alaikum… Apa kabar, teman-teman? Jangan terlalu serius! Tulisan kali ini termasuk ke dalam kategori tulisan semi-ilmiah, kok. Dan bukan tugas kuliah yang mesti dipublikasi di situs  digital library atau repository universitas. :D

~~~~~

24 Maret 2016. Tercatat sejak hari ini, saya mulai kagum dengan Cina. ♥

Saya adalah seorang anglophile. Saya menyukai apapun yang berkaitan dengan Inggris. Namun kesukaan saya pada satu hal tidak secara otomatis membuat saya membenci hal yang lainnya. Pada hari ini, kekaguman saya pada negara dan bangsa Cina membuncah. Sebenarnya, sejak dulu saya sering mendengar dan membaca tentang keunggulan negara dan bangsa tersebut. Namun entah kenapa pada hari ini saya berada pada suatu titik di mana rasanya saya ingin sekali mengungkapkan kekaguman saya ini. Seperti seseorang yang sudah memendam rasa cinta terlalu lama kemudian memberanikan diri untuk mengekspresikannya.

Bentuk kekaguman saya ini bukanlah sesuatu yang adiktif, fanatis, dan kontradiktif dari ideologi saya. Sama halnya seperti ketika saya mengagumi bangsa Yahudi atas stereotipe kejeniusannya, bangsa Amerika dengan kemandiriannya, bangsa Rusia dengan kecakapan militer dan intelijennya, bangsa Arab dengan kekayaan minyaknya, bangsa Eropa dengan warisan sejarah, kultur, dan seninya, serta negara dan bangsa lain yang memiliki jati diri yang layak untuk dikagumi. Ketika saya kagum dengan suatu negara dan bangsa, bukan berarti saya setuju 100% dengan apa yang diterapkan oleh negara dan bangsa tersebut.

Namun kelemahan manusia (termasuk saya) ialah terlalu mudah untuk menyimpulkan (mengeneralisasi secara berlebihan, melakukan observasi selektif, terlalu mempercayai hallo effect, dan lain sebagainya). Ketika seseorang menyukai Amerika, kita langsung beranggapan bahwa ia adalah antek-antek liberal. Pun ketika seseorang mengagumi Cina, pasti ada segelintir orang yang berpikiran bahwa seseorang tersebut menganut ideologi sosialisme atau komunisme. Dalam mengagumi Cina, saya lebih menyoroti konteks kecerdasan negara dan bangsa tersebut dalam hal melakukan kegiatan ekonomi. Saya sama sekali tidak mengusik masalah ideologinya. Jikapun ada yang tercantol sedikit, ambil saja sisi baiknya.

~~~~~

Dimulai dari pertanyaan yang saya ajukan kepada kedua orangtua saya ketika masih kecil dulu, “Kenapa semuanya ‘made in China’?” Pertanyaan itu terlontar tatkala saya sering memperhatikan barang-barang yang saya miliki hampir semuanya bertuliskan “Made in China”. Saya tidak ingat secara jelas jawaban orangtua saya, namun intinya mereka menjawab, “Karena China negara yang bisa menciptakan apa saja.” Kemudian imajinasi saya pun membayangkan Cina ialah sebuah negara besar yang latarnya seperti di negeri dongeng. :D

28 September 2015

Psychology Summit 2015: Apa yang Dapat Kita Lakukan untuk Membuat Sebuah Kota Layak Ditempati?

September 28, 2015 0
(Pic: pixelstalk.net)


Assalamu’alaikum, teman-teman! Bagaimana kabar kalian di akhir bulan September ini? Semoga selalu dalam keadaan baik, ya! :)

Sabtu, 26 September 2015, saya dengan teman saya yang bernama Khirana pergi menuju ke tempat di mana sense of belonging saya (masih) bermuara. Kami berencana untuk menghadiri seminar yang termasuk ke dalam salah satu rangkaian acara Psychology Summit 2015 yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Kami sudah mewacanakannya sejak jauh hari. Semestinya pada saat itu kami tidak hanya berduaan, tapi juga bersama dengan salah satu teman kami yang bernama Wina. Namun sayangnya, pada hari H Wina berhalangan untuk ikut. Akhirnya saya dan Khirana tetap bergegas ke lokasi dengan menumpangi kereta.

Kami sampai di Fakultas Psikologi UI sekitar jam 09:10 pagi. Di tiket tertera bahwasanya acara dimulai pada pukul 09:00. Maka saya dan Khirana mempercepat langkah kaki menuju ke auditorium gedung H, tempat di mana seminar diadakan. Sesampainya di ruangan, saya sangat bersyukur lantaran acara memang sudah dimulai, namun belum masuk ke sesi materi. MC masih melakukan semacam sambutan selamat datang kepada para peserta. Saya dan Khirana memilih kursi yang berada di atas dan dekat dengan layar di sudut kanan. Selain karena kursi di bawah dan depan relatif penuh, kejelasan pandangan mata saya memang dominan ke arah kanan. Walau jauh dari pembicara, setidaknya saya harus dekat dengan layar.

Seminar yang bertajuk “What We Can Do to Make a City Worth Living?” secara garis besar membahas tentang permasalahan di kota, gambaran tentang kota yang ideal, dan solusi-solusi atas permasalahan tadi dari sudut pandang psikologi. Seminar ini mengulas keterlibatan ilmu psikologi dalam pembangunan sebuah kota demi mencapai kesejahteraan bersama. “Kota? Anak HI kan scope-nya Negara?” Iya, memang. Namun tak ada salahnya juga untuk mengetahui apa yang terjadi pada skala domestik.

Audiens tidak dibatasi pada persyaratan “harus dari ranah psikologi” sebab sebenarnya seminar ini bersifat multidisipliner. Kita bisa tetap menerapkan apa yang pemateri sampaikan walau lebih banyak menggunakan perspektif psikologi. Karena pada dasarnya psikologi erat dengan keseharian kita. Saya sendiri kebetulan memang gemar mempelajari psikologi meski tidak secara formal. (Bahkan saya sering dikira mahasiswi psikologi dan sastra oleh teman yang belum mengetahui latar belakang saya. Tapi saya tidak masalah kok dibilang seperti itu. Hehehe.) Seminar tersebut saya estimasikan dapat membuat saya begitu antusias. Dan ternyata memang demikian.

Seminar dengan tema menarik tentunya kurang lengkap jika tidak diisi oleh pembicara yang menarik pula. Ada kalimat yang menyatakan bahwa “Bukan tentang siapa yang berbicara, tapi tentang apa yang dibicarakannya.” Saya tidak menentang kalimat tersebut secara utuh. Hanya saja saya pikir kalimat itu bersifat kondisional. Dalam dunia akademis, adalah penting untuk melihat dulu siapa pembicaranya agar kita bisa mengetahui sejauh mana kredibilitasnya untuk membicarakan topik tertentu. Karena ilmu itu harus diverifikasi, bukan ditelan bulat-bulat. Untuk itu, kita butuh untuk mengenal narasumber yang akan menyampaikan sesuatu kepada kita. Namun sekali lagi, saya tidak menyatakan bahwa kita hanya boleh mendengar kata ahli saja. Semua itu sesuai tempat dan waktunya.
(http://twitter.com/psysummit2015)

Beruntungnya saya menghadiri seminar dalam Psychology Summit 2015 ini. Narasumbernya dahsyat-dahsyat! Bapak Bambang Rijadi, Ibu Niniek L. Karim, dan… Bapak Ridwan Kamil!

05 May 2015

Hypnoteaching: Mengajar dengan Pendekatan Hypnosis dan Public Speaking

May 05, 2015 2
Source: macedoniaonline.eu
Assalamu’alaikum... :)

Hai, semuanya! Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis tentang suatu acara yang saya ikuti. Kali ini saya akan kembali dengan hal tersebut.

Pada 7 April 2015, saya mengikuti seminar di kampus satu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tepatnya di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution. Seminar tersebut bertajuk Seminar Hypno-teaching: “Motivasi Sukses Mengajar dengan Pendekatan Hypnosis dan Public Speaking.” Saya mengetahui informasi tentang seminar tersebut dari kawan saya, Zahra. Zahra ini tadinya ingin mengikuti seminar tersebut juga, tapi karena satu dan lain hal, ia mengurungkan niatnya. Lagi-lagi saya sendiri. Tak mengapa. Sudah biasa.

Dalam pemikiran saya, jika suatu acara diadakan di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, pasti acara tersebut mengundang audience (baik nasional mau pun internasional) dari kalangan umum dengan kuota yang besar. Maka saya berangkat lebih awal setengah jam dari pukul 8 pagi, yang mana merupakan waktu dimulainya seminar tersebut. Sesampainya di auditorium, saya menemui banyak orang yang kompak berkerudung merah. Barangkali mereka adalah panitia dari seminar tersebut. Saya tidak melihat adanya peserta lain selain saya kecuali seorang bapak yang sedang mengobrol dengan salah satu panitia di dekat sebuah meja bertuliskan “On The Spot.” Saya pun mendekati meja tersebut karena memang saya belum melakukan registrasi sebelumnya. Otomatis saya melakukan registrasi secara on the spot. Setelah saya perhatikan gelagat panitia dan seorang bapak serta tak lupa mengintip lembaran registrasi yang ada di atas meja, saya pun akhirnya mengetahui bahwa bapak tersebut ialah seorang guru dan beliau sedang menantikan kehadiran rekan-rekannya yang lain. Dari situ saya mengasumsikan bahwa mayoritas peserta seminar ialah pendidik dan/atau pengajar. 

26 March 2014

ASEAN Literary Festival 2014

March 26, 2014 0
(Pic: wall.alphacoders.com)
Assalamu’alaikum. :)

Benar adanya bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, seisi dunia ini akan berkonspirasi untuk mengabulkan keinginan kita itu. Hal ini terjadi kepada saya beberapa waktu yang lalu. Sedari dulu saya ingin sekali menghadiri Ubud Writers & Readers Festival. Ya, sebuah festival berskala internasional yang dihadiri dan atau menghadirkan para orang-orang hebat yang berkecimpung di dunia sastra, budaya dan seni. Lebih khususnya lagi, acara tersebut dihadiri dan atau menghadirkan para penulis. Namun apa daya, Bali tidak bisa (atau belum bisa) saya tempuh dengan mudah karena satu dan lain hal.

Nah, beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman saya yang mengabarkan saya tentang sebuah event. Event itu adalah ASEAN Literary Festival 2014. Mendengar kata “literary” sontak membuat tangan saya gatal untuk browsing tentang acara tersebut melalui Google. Kebetulan pada waktu event itu diadakan, schedule saya sedang kosong. Teman saya pun bersegera meregistrasikan dirinya dan saya.

ASEAN Literary Festival Poster. Source: veooz.com


ASEAN Literary Festival 2014 adalah yang digelar pertama kalinya, lho. Wah, sebagai orang Indonesia, saya patut merasa bangga. Ternyata masyarakat Indonesia ada yang menggerakkan sastra, budaya, dan seni sampai sebegininya; sampai menjadi tuan rumah pertama event kebudayaan se-ASEAN ini. Ya, saya selalu optimis bahwa Indonesia tidak hanya punya budaya korupsi saja. Ada banyak sekali kekayaan yang kita punya, khususnya dalam bidang sastra, budaya, dan seni. Partisipasi dan antusiasme para pendatang di festival kemarin itu adalah salah satu buktinya. Pemuda-pemudi Indonesia tidak malu untuk mengekspos kekayaan Indonesia kepada khalayak internasional di kala citra kita sebagai bangsa Indonesia dianggap miskin oleh orang kita sendiri. Apalagi sastra, budaya, dan seni seringkali dipandang sebelah mata oleh kebanyakan dari kita. Padahal semua itu adalah hal-hal yang membuat Negara kita ini punya identitas. 

ASEAN Literary Awards yang pertama ini mengusung tema “Anthems for the Common People”. Tema ini terinspirasi dari “Song of the Grassroots” yang diciptakan oleh seorang penyair dan aktivis berpengaruh, —namun ia diculik dan sampai sekarang masih hilang— Wiji Thukul. Ya, para era Orde Baru, Wiji Thukul dicari oleh otoritas keamanan Indonesia. Sebab ia adalah anak muda yang berani mengekspos dan memerangi ketidakadilan dalam Hak Asasi Manusia dan kebebasan. Ia mengekspresikannya melalui sastra. Maka festival ini juga menjadi sebuah tribute untuk Wiji Thukul.

Sebenarnya festival ini diadakan tiga hari berturut-turut; sejak tanggal 21 sampai dengan 23 Maret 2014. Ada banyak tema diskusi yang bisa dipilih. Namun karena saya dan teman saya baru bisa hadir pada hari terakhir, maka kami mengambil sesi diskusi yang diselenggarakan pada hari Minggu saja. Kami menghadiri sesi diskusi yang bertemakan “Ethnicity, Religion, and Literature” dan “Women and Literature”. Sungguh seru.

Berikut saya akan membagikan sedikit yang saya cerna dari diskusi tersebut.

Diskusi 1
Tema: “Ethnicity, Religion, and Literature”

Moderator: Laura Schuurmans 
(Penulis dan peneliti yang berasal dari Belanda, namun menetap di Jakarta. Ia berkonsentrasi dalam penanganan konflik. Beberapa di antaranya adalah tentang gap antara dunia muslim dengan dunia barat dan masalah nuklir China dengan negara-negara tetangganya. Untuk Informasi lebih lanjut tentang Laura Schuurmans, silakan kunjungi www.lauraschuurmans.com)

Pembicara: 
Andy Fuller 
(Penulis, editor sebuah jurnal kritik, dan peneliti yang berasal dari Belanda ini senang mempelajari tentang urban, budaya populer (sastra dan olahraga), dan pemikiran Islam. Tesisnya untuk meraih gelar PhD menganalisa tentang tulisan Seno Gumira Ajidarma. Informasi lebih lanjut tentang Andy Fuller, silakan kunjungi readingsideways.net)

Na Ye 
(Penulis yang berasal dari etnis minoritas di China; Manchu. Selain menulis banyak puisi, ia juga menjabat sebagai wakil ketua dari Gansu Provincial Writers Association. Ia sudah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi.)

Kesimpulan:
Jika kita bicara tentang kaitan antara etnis, agama, dan sastra di Indonesia, kita tidak bisa kalau tidak mengikutsertakan pembicaraan tentang Islam di dalamnya. Semua yang hadir pada sesi tersebut juga pasti tahu bahwa pembahasan ini adalah pembahasan yang sensitif.
Bersastra di Indonesia menjadi hal yang sangat kompleks. Penulis harus banyak ‘menyunat’ konteks dari karya mereka agar bisa diterima oleh masyarakat mayoritas. Biasanya yang sering ter-cut adalah tulisan-tulisan yang mengkritik tentang pemerintahan atau politik. 
Pernah ada penulis (Duh, maaf saya lupa namanya. Lebih tepatnya, saya tidak mendengar dengan jelas nama beliau. Hehehehe) yang ketika ia meninggal, ia menyuruh orang-orang untuk membakar semua karya yang diciptakan oleh si penulis itu semasa hidupnya. Hal itu dikarenakan si penulis merasa bahwa semua karya yang ditulisnya bukan yang benar-benar ingin ia tuliskan. Ia ingin menyampaikan yang lain, namun karena dibatasi oleh hal-hal tertentu, ia jadi tidak bisa bebas menuliskan apa yang sebenarnya ingin ia tuliskan. Mungkin begitu pulalah nasib para penulis di Indonesia sekarang. Ya, sastra di Indonesia dipersepsikan sebagai sastra yang radikal. Mungkin tulisan kritikan yang ditujukan untuk etnis dan atau agama tertentu sering dikira sebagai hal yang mengacu pada sekularisme. Padahal sebenarnya beberapa di antaranya bertujuan untuk mengajak pembaca agar kembali kepada nilai-nilai kebenaran.
Banyak tulisan di Indonesia yang tidak terkenal padahal bagus kontennya. Hal itu kadang disebabkan oleh tidak dilakukannya translasi ke dalam bahasa Inggris. 

Diskusi 2
Tema: “Women and Literature”

Moderator: Saras Dewi
(Penulis dan aktivis wanita yang baru-baru ini menjabat sebagai kepala departemen filsafat Universitas Indonesia ini adalah juga seorang penyanyi dan penari.)

Pembicara: 
Oka Rusmini
(Penulis puisi, novel, dan cerita pendek ini banyak membahas tentang wanita dalam karya-karyanya. Novelnya sudah ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Ia sudah sering pula memenangkan penghargaan sastra.)

Jeongrye Choi
(Penulis puisi asal Korea ini karyanya sudah ada yang ditranslasi ke dalam bahasa Inggris dan Jepang. Selain menulis, ia juga menjadi dosen di Korea University.)

Kesimpulan:
Kesan pertama Jeongrye Choi saat melihat perempuan-perempuan Indonesia adalah perempuan Indonesia sangat santai pembawaannya; seperti tidak ada yang dipikirkan. Beda dengan perempuan Korea yang terkesan selalu resah, terburu-buru, dan sejenisnya.
Orang dari Negara lain, terutama Indonesia, melihat perempuan-perempuan Korea sepertinya menyenangkan. Itu yang terepresentasikan oleh K-Pop saja. Padahal perempuan Korea di sana banyak dirundung masalah. Terutama permasalahan ekonomi dan kediktatoran militer.
Salah satu cara untuk membuat pembacaan puisi jadi tidak monoton adalah dengan impromptu. Misalnya saja dengan menggabungkan ritus rupa, ritus bunyi, dan ritus musik.
Sastrawan perempuan pada era reformasi sering membahas hal-hal yang dianggap tabu, misalnya seksualitas. Pada dasarnya semua penulis harus bermental baja. Jangan terlalu memikirkan pelabelan dari orang lain. Oka Rusmini tidak peduli jika ia dianggap sebagai feminis, lesbian, atau apa pun karena tulisannya yang sering membahas tentang perempuan. Bagi Oka Rusmini, yang penting para pembaca tercerahkan dengan tulisannya. 
Menurut Oka Rusmini, sastrawan perempuan baru mulai bermunculan pada awal tahun 2000-an. Saat itu penulis perempuan masih belum dihargai karyanya. Karya yang dihasilkan oleh para penulis perempuan sering disebut “Sastra lendir.”
Industri kapitalis seringkali mengkotak-kotakkan para penulis perempuan, sehingga karya yang laku terjual di pasaran hanyalah karya-karya tertentu.
Dunia sangat membutuhkan perspektif dari para perempuan. Ketika Oka Rusmini menulis “Pandora” yang isinya tentang tubuh perempuan, ia membahas tentang bagaimana rahim terisi oleh segumpal daging yang semakin membesar, dan sebagainya. Memangnya lelaki bisa menuliskan tentang hal semacam itu? Mungkin bisa, tapi apa yang disampaikan mungkin tidak terlalu sampai ke otak dan hati pembaca. Namun begitu, penulis perempuan bukan berarti harus menulis hanya tentang perempuan saja. It’s not about the women, but it’s about women’s perspectives.

Itulah yang bisa saya sampaikan dari diskusi kemarin. Semoga ada yang bisa diperoleh dari tulisan saya ini. 
Wassalamu’alaikum. :)